LDberita.id - Batubara, Ramli Sinaga, mengajak masyarakat untuk membuka mata terhadap realitas pembangunan di Kabupaten Batu Bara. Menurutnya, ukuran keberhasilan seorang pemimpin tidak dapat diukur dari banyaknya seremoni, publikasi, ataupun narasi politik, melainkan dari sejauh mana masyarakat benar-benar merasakan perubahan dalam kehidupan sehari-hari.
"Rakyat Batu Bara harus cerdas menilai pemimpinnya. Jangan sampai kita terjebak pada pencitraan, sementara persoalan-persoalan mendasar yang menjadi kebutuhan masyarakat justru terus dibiarkan tanpa penyelesaian yang jelas," tegas Ramli. Jumat (26/6/2026),
Ia menyoroti masih banyaknya infrastruktur jalan yang rusak di berbagai wilayah Kabupaten Batu Bara. Kondisi tersebut, menurutnya, bukan sekadar persoalan kenyamanan berkendara, tetapi telah menghambat aktivitas ekonomi masyarakat, meningkatkan biaya distribusi hasil pertanian dan perikanan, mengganggu akses pendidikan, serta berpotensi membahayakan keselamatan pengguna jalan.
"Jalan bukan hanya hamparan aspal. Jalan adalah urat nadi perekonomian daerah. Ketika jalan rusak bertahun-tahun tanpa penanganan yang serius, sesungguhnya yang sedang terhambat bukan kendaraan, tetapi masa depan masyarakat Batu Bara."
Ramli menilai bahwa daerah yang memiliki potensi sumber daya alam dan pendapatan yang besar semestinya mampu menghadirkan pembangunan infrastruktur yang lebih baik. Karena itu, masyarakat berhak mempertanyakan sejauh mana anggaran pembangunan telah dikelola secara efektif, transparan, dan benar-benar berpihak kepada kepentingan rakyat.
Ia mengingatkan pesan Imam Al-Ghazali dalam Nasihatul Muluk bahwa kekuasaan bukanlah kehormatan yang dapat dibanggakan, melainkan amanah yang akan dimintai pertanggungjawaban, baik di hadapan rakyat maupun di hadapan Allah SWT.
"Al-Ghazali telah mengingatkan berabad-abad lalu bahwa penguasa yang mengabaikan amanahnya akan menjadi sumber kerusakan yang lebih berbahaya daripada ancaman dari luar. Kerusakan itu tidak selalu datang dengan suara yang keras, tetapi hadir melalui kebijakan yang lamban, pembiaran terhadap penderitaan rakyat, dan hilangnya keberpihakan kepada kepentingan umum."
Ramli juga mengutip pemikiran Ibnu Sina dalam Al-Siyasah yang menegaskan bahwa kepemimpinan harus dibangun di atas akhlak, integritas, dan kemampuan mengendalikan diri.
"Pemimpin yang sibuk mempertahankan kekuasaan tetapi lalai memenuhi kebutuhan rakyat telah kehilangan makna sejati dari kepemimpinan. Jabatan bukan tujuan akhir, melainkan sarana untuk menghadirkan keadilan dan kesejahteraan."
Menurut Ramli, masyarakat Batu Bara tidak sedang menuntut sesuatu yang berlebihan. Mereka hanya menginginkan hak-haknya dipenuhi sebagaimana diamanatkan dalam Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2014 tentang Pemerintahan Daerah, yaitu memperoleh pelayanan publik yang berkualitas, pembangunan yang merata, serta pengelolaan anggaran yang efektif, efisien, transparan, dan akuntabel.
"Kemajuan daerah tidak lahir dari slogan, baliho, ataupun pidato-pidato yang indah. Kemajuan lahir ketika setiap rupiah uang rakyat diwujudkan menjadi jalan yang layak, sekolah yang berkualitas, pelayanan kesehatan yang mudah diakses, dan lapangan pekerjaan yang mampu meningkatkan kesejahteraan masyarakat."
Ia menegaskan bahwa sudah saatnya paradigma pembangunan di Kabupaten Batu Bara berubah. Pemerintah harus lebih banyak hadir di tengah masyarakat daripada sibuk membangun citra politik.
"Jika bertahun-tahun masyarakat masih berkutat dengan jalan rusak, banjir saat hujan, pelayanan publik yang belum optimal, dan pembangunan yang berjalan lambat, maka kritik terhadap pemerintah bukanlah bentuk kebencian, melainkan wujud kecintaan terhadap daerah agar tidak terus tertinggal."
Menutup pernyataannya, Ramli mengajak seluruh elemen masyarakat untuk terus mengawal jalannya pemerintahan secara kritis dan konstruktif.
"Sejarah membuktikan bahwa daerah akan maju ketika pemerintah bersedia mendengar kritik, bukan membungkam kritik. Rakyat Batu Bara berhak memperoleh pemerintahan yang bekerja, bukan sekadar terlihat bekerja.
Sebab ukuran keberhasilan seorang pemimpin bukan seberapa lama ia berkuasa, melainkan seberapa besar manfaat yang ditinggalkannya bagi kesejahteraan rakyat dan kemajuan daerah."tandasnya. (Boy)





